MACAM-MACAM METODE
PEMBELAJARAN
OLEH: RISKA NOVITA,S.Pd
Dalam bahasa Inggris, method berarti
cara, sehingga menurut Joni dalam Asep Herry Hernawan (2008: 1.24) metode
adalah berbagai cara kerja yang bersifat
relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut
Wina Sanjaya (2011: 145) metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplentasikan rencana yang sudah
disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
optimal.” Dari pendapat itu metode
digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian,
metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting.
Winarno Surachmad dalam Hidayati, dkk (2008: 7.21) mengemukakan metode mengajar
adalah cara-cara pelaksanaan proses belajar mengajar atau bagaimana teknisnya
suatu bahan ajar diberikan pada murid di sekolah.
Suyono
dan Hariyanto (2011 : 19) memaparkan metode pembelajaran adalah seluruh
perencanaan dan prosedur maupun langkah – langkah kegiatan pembelajaran
termasuk pilihan dan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode pembelajaran
dapat dianggap sebagai prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara
yang teratur untuk melaksanakan prose pembelajaran. Metode menurut Sagala dalam
Ruminiati (2007: 2.3) adalah cara yang digunakan oleh guru atau siswa dalam
mengolah informasi yang berupa fakta, data dan konsep pada proses pembeajaran
yang mungkin terjadi.
Berdasarkan
beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara-cara
yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar
menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar agar terjadi
interaksi dalam proses pembelajaran dan tercapainya presentasi belajar anak
yang memuaskan. Sehingga dapat disimpulkan, metode
pembelajaran merupan cara yang digunakan oleh guru
untuk mengadakan interaksi dengan siswa pada saat proses belajar mengajar
berlangsung.
a.
Manfaat
Metode Pembelajaran
E.
Mulyasa (2010: 107) menyatakan penggunaan metode yang tepat akan menentukan
efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Metode pembelajaran harus dipilih dan
dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.
Ruminiati (2007: 2.4) mengemukakan tujuan pembelajaran akan tercapai secara
optimal jika metode yang digunakan tepat yang dapat dilaksanakan dengan
menggunakan mtode lebih dari satu.
Hidayati,
dkk (2008: 7.21) menyatakan semakin tepat metode yang digunakan pembelajaran
akan berlangsung semakin efektif. Dengan memanfaatkan metode secara akurat guru
mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Badariyah Almatsir
dalam Hidayati, dkk (2008: 7.22) mengemukakan berbagai factor yang mempengaruhi
penentuan metode yang menunjang keefektifan belajar meliputi 1) tujuan
pengajaran; 2) bahan pengajaran; 3) siswa yang belajar; 4) kemampuan guru yang
mengajar; 5) besarnya jumlah siswa; 6) alokasi waktu yang tersedia; 7)
fasilitas yang tersedi; 8) media dan sumber belajar; 9) situasi pada suatu
saat; 10) system evalusi.
Manfaat
metode menurut Nurhidayati (2011: 5-6) adalah sebagai
berikut:
1)
Mengarahkan proses pembelajaran pada
tujuan pembelajaran
2)
Menghilangkan dinding pemisah guru-siswa
3)
Menggali dan memanfaatkan potensi siswa
secara optimal
4)
Menjalin kemitraan guru-siswa
5)
Mempermudah penyerapan informasi
6)
Suasana menyenangkan “fun”
7)
Memberikan kesempatan siswa untuk
belajar secara optimal.
Berdasarkan
pemaparan diatas dapat disimpulkan metode pembelajaran yang tepat akan
mengakibatkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan efektif. Metode
pembelajaran bermanfaat bagi guru maupun siswa dalam kegiatan pembelajaran yang
berjalan hingga tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan.
b.
Jenis
– jenis Metode Pembelajaran
Jenis-jenis
metode pembelajaran menurut Supinah (2009: 15) diantaranya yaitu:
1)
Metode Ceramah
Metode
ini berbentuk penjelasan guru kepada siswa dan biasanya diikuti dengan tanya
jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Metode ini mempunyai keterbatasan
sebagai berikut: (1) partisipasi siswa rendah; (2) kemajuan siswa sulit
dipantau, dan (3) perhatian dan minat siswa tidak dapat dipantau. Pada pelajaran matematika. metode
ceramah ini dapat diterapkan pada waktu kegiatan pembelajaran baru dimulai atau
pada saat guru menginformasikan materi pembelajaran yang tidak menuntut peran
aktif siswa, missal: menginformasikan definisi, teorema, rumus atau prosedur.
2)
Metode Demonstrasi
Metode
ini mengambil bentuk sebagai contoh pelaksanaan suatu keterampilan atau proses
kegiatan. Metode ini mempersyaratkan adanya suatu keahlian bagi guru untuk
mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti
kegiatan yang sesungguhnya. Setelah demonstrasi siswa diberi kesempatan
melakukan ketrampilan atau proses yang sama di bawah supervisi guru. Pada pelajaran
matematika, metode ini digunakan antara lain saat pembuktian teori atau
penurunan rumus (misal: volume atau luas bangun ruang), penggunaan alat (misal:
penggaris, bujur derajat, jangka, dan lain - lain) dalam menggambar atau
melukis bangun, penggunaan alat peraga (misal: klinometer, kurvameter dan lain
- lain).
3)
Metode Penampilan
Metode
ini berbentuk pelaksanaan praktik oleh siswa di bawah supervisi dari dekat oleh
guru. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau demontrasi yang
telah diterima atau diamati siswa. Pada pembelajaran matematika, metode ini
digunakan pada saat siswa harus menampilkan suatu ketrampilan atau proses yang
sama yang telah dilakukan guru, misal: menggambar atau melukis dengan
menggunakan alat.
4)
Metode Diskusi
Metode
ini merupakan interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru untuk
menganalisis, menggali atau memperdebatkan topic atau permasalahan tertentu.
Metode ini dapat dilakukan dalam bentuk klasikal atau kelompok-kelompok kecil.
Diskusi kelompok kecil dapat dibedakan menjadi: pasangan, kelompok 3 - 6 orang,
kelompok dinamika yaitu mulai dari dua orang, kemudian bergabung menjadi empat
orang, terus bergabung menjadi delapan orang dan seterusnya. Pada pembelajaran
matematika, metode ini digunakan antara lain pada kompetensi yang memerlukan
penalaran atau analisis dan adanya lebih dari satu kemungkinan jawaban, misal
pembuktian teorema atau rumus atau pemecahan masalah.
5)
Metode Studi Mandiri
Metode
ini berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh siswa tanpa
bimbingan atau pengajaran khusus. Metode ini dilakukan dengan cara: (1) memberikan
daftar bacaan kepada siswa yang sesuai dengan kebutuhannya; (2) menjelaskan
hasil yang diharapkan dicapai oleh siswa pada akhir kegiatan studi mandiri; dan
(3) mempersiapkan tes untuk menilai keberhasilan siswa. Metode ini hanya dapat digunakan
bila siswa mampu menentukan sendiri tujuannya dan dapat memperoleh
sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Pada pembelajaran
matematika SD, metode ini dapat dilaksanakan di kelas-kelas tinggi (kelas V
atau kelas VI) yaitu pada tahap terakhir proses belajar, misal: setelah
mempelajari topik tertentu guru memberikan tugas pada siswa untuk mempelajari
kembali topik yang dibahas dengan latihan-latihannya yang ada pada beberapa
buku yang ditentukan. Kemudian pada pertemuan berikutnya guru memberikan tes untuk
melihat hasil yang dicapai siswa.
6)
Metode Bermain Peran
Metode
ini berbentuk interaksi antara dua atau lebih siswa tentang suatu topik atau
situasi. Dalam interaksi itu setiap siswa melakukan peran terbuka. Metode ini
sering digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan
isi pelajaran yang baru saja dipelajarinya dalam rangka menemukan kemungkinan
masalah yang akan dihadapi dalam pelaksanaan sesungguhnya. Pada pembelajaran metematika
di SD, metode ini cocok diberikan pada pokok bahasan aritmatika sosial, seperti
tukar menukar mata uang, jual beli dan lainlain.
7)
Metode Computer Assisted Learning (CAL)
Metode
CAL berbentuk suatu seri kegiatan belajar yang sangat terstruktur dengan menggunakan
komputer. Isi pelajaran dimunculkan oleh komputer dalam bentuk masalah. Siswa
diminta memberikan jawaban atau pemecahan masalah melalui komputer dan seketika
itu juga jawaban siswa diproses secara elektronik, berselang satu atau beberapa
detik kemudian siswa mendapatkan umpan balik tentang jawabannya. Metode ini
memberi kesempatan pada siswa untuk maju menurut kecepatan masing-masing.
Kesulitan penggunaan metode ini adalah pengembangan program CAL membutuhkan
biaya yang tinggidan butuh waktu yang lama serta pengadaan dan pemeliharaan
alat yang mahal. Pada pembelajaran matematika di SD, program-program CAL sudah
tersedia, seperti operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan
lain-lain. Namun demikian metode ini jarang ataupun tidak banyak digunakan di
sekolah-sekolah dasar pada umumnya. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya
fasilitas pendukung terlaksananya metode ini, seperti keterbatasan jumlah
komputer dan program-programnya.
8)
Metode Deduktif
Metode
ini dimulai dengan pemberian penjelasan tentang prinsipprinsipisi pelajaran,
kemudian disusul dengan penerapan atau contoh-contohnya pada situasi tertentu.
Metode ini bergerak dari yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Metode ini
tepat digunakan bila: (1)siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang
dipelajari; (2) isipelajaran meliputi terminologi, teknis, dan bidang yang
kurang membutuhkan proses berpikir teoritis; (3) pengajaran mengenai pelajaran
tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicara yangbaik; dan (4) waktu
yang tersedia singkat. Dalam menggunakan metode ini tahap yang perlu dilakukan
guru adalah mempersiapkan pembelajaran dengan baik kemudian guru menjelaskan/menerapkan/menganalisis
suatu konsep, prinsip atau prosedur kepada siswa, kemudian berbekal penjelasan
guru, siswa menerapkan konsep, prinsip atau prosedur dalam menyelesaikan masalah.
Pada pembelajaran matematika di SD, metode ini dapat digunakan misalnya
pada saat guru menjelaskan tentang rumus-rumus dan penerapannya, seperti: rumus
keliling, luas ataupun volum, atau pada saat guru menjelaskan prosedur
penyelesaian suatu masalah, seperti menentukan sudut terkecil yang dibentuk
oleh jarum jam yang menunjukkan waktu atau pukul tertentu.
9)
Metode Induktif atau Discovery atau
Socratic
Metode
ini dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang
mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha
keras mensintesis, menemukan atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran
tersebut. Metode ini tepat digunakan apabila: (1) siswa telah mengenal atau mempunyai
pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut; (2) yang dianjurkan
berupa keterampilan komunikasi antar pribadi, sikap, pemecahan masalah, dan
pengambilan keputusan; (3) guru mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik,
fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, serta sabar; dan (4) waktu yang
tersedia cukup panjang. Pada metode ini tahap yang perlu dilaksanakan guru
adalah mengajukan masalah dan membimbing siswa untuk menemukan pemecahannya. Sedangkan
tahap yang perlu dilakukan siswa dalah memahami masalah, memproses data dan
menganalisanya kemudian menggeneralisasikan ke dalam bentuk umum. Pada
pembelajaran matematika, metode ini dapat digunakan misalnya dalam menemukan
rumus luas atau keliling bangun datar, volum bangun ruang atau menemukan
hubungan antara panjang, lebar, keliling, dan luas.
Selain
metode tersebut menurut Wardani dalam Supinah (2009:19), yaitu:
1)
Metode Ekspositori
Metode
ini merupakan cara pembelajaran dengan guru berbicara pada saat-saat tertentu
saja. Sedangkan kegiatan siswa tidak hanya terfokus pada mendengarkan dan
memperhatikan penjelasan guru dan membuat catatan tetapi juga mengerjakan
soal-soal latihan dengan mandiri baik secara individual atau kelompok. Pada
pembelajaran matematika di SD, guru berbicara misalnya pada saat pembelajaran,
menjelaskan materi,memberikan contoh atau pada saat memberikan latihan pada
siswa.
2)
Metode Tanya Jawab
Metode
ini merupakan interaksi antara siswa dan guru dalam bentuk murni tanya jawab
dalam membahas topik atau permasalahan tertentu. Inisiatif dan arahan tanya
jawab dikendalikan oleh guru. Pertanyaan guru harus dijawab siswa dan
sebaliknya bisa terjadi siswa bertanya pada guru. Walaupun pembelajaran
dilakukan dengan murni Tanya jawab namun masih diperlukan cara informatif
khususnya untuk pengarahan.
3)
Metode Drill dan Latihan
Metode
Drill berbentuk pertanyaan atau soal dari guru yang harus dijawab siswa dengan
cepat, tepat dan benar. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan
dengan tujuan untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan siswa dalam mengingat
serta mengungkapkan kembali ingatannya (menyebutkan) tentang fakta-fakta dasar,
seperti: penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bilangan-bilangan dasar,
sebagai contoh: siswa di kelas III SD harus memiliki kemampuan melakukan
perkalian dua bilangan satu angka dengan satu angka yang hasilnya sampai dengan
81 dengan cepat, tepat dan benar. Metode latihan berbentuk masalah atau soal
dari guru yang harus dijawab siswa dengan kecepatan dan kecermatan. Pada
pembelajaran matematika digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa agar cepat
dan cermat dalam menggunakan algoritma (langkah-langkah atau prosedur penyelesaian
masalah) matematika.
4)
Metode Pemberian Tugas
Metode
ini berbentuk pemberian tugas oleh guru yang harus dilaksanakan dan
dipertanggungjawabkan pelaksanaannya oleh siswa kepada guru atau teman-teman
sekelasnya. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain
bertujuan agar siswa dapat: melatih keterampilannya dalam menyelesaikan soal,
lebih memahami dan mendalami suatu kompetensi yang telah dipelajari di sekolah,
menumbuhkan kebiasaan belajar secara mandiri dan sikap positif terhadap
matematika serta melatih rasa tanggung jawab. Untuk itu tugas yang diberikan
pada siswa dapat berupa: menyelesaikan soalsoal matematika, membaca bahan yang
akan dipelajari, menerapkan kemampuan matematikanya, mencari contoh kasus dalam
kehidupan sehari-hari yang relevan dengan konsep atau algoritma matematika tertentu,
dan lain-lain.
5)
Metode Kegiatan Lapangan
Metode
ini berbentuk pemberian tugas dari guru kepada siswa untuk menyelesaikan dengan
melakukan kegiatan lapangan (di luar kelas) dan menggunakan instrumen tertentu.
Pada pembelajaran metematika, metode ini dapat digunakan pada saat siswa
belajar statistik (siswa mengumpulkan data statistik dari lapangan kemudian
mengolah dan menyajikannya dalam suatu diagram atau grafik), pengukuran (pengukuran
tinggi suatu obyek pohon atau gedung) tanpa harus melakukan pengukuran langsung
(misal dengan klinometer), mengukur lebar sungai, dan lain-lain.
6)
Metode Permainan
Metode
ini berbentuk kegiatan pembelajaran yang didasarkan pada prinsip “belajar
sambil bermain”. Pada pembelajaran matematika, permainan yang bernilai
matematika dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam menguasai keterampilan
tertentu, menemukan dan memecahkan masalah, serta memahami konsep tertentu,
contoh: bermain bilangan pada bujur sangkar, segitiga dan segilima ajaib, bermain
kartu dan lain-lain.
c.
Metode Tutor Sebaya
1) Pengertian Metode Tutor Sebaya
Selain
macam-macam metode yang disebutkan sebelumnya peneliti memilih metode lain
dalam penelitian ini, yaitu metode tutor sebaya. Tutor sebaya
menurut Arikunto (2006: 11) adalah seseorang atau beberapa oramg siswa yang
ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap
kawan sekelas. Dengan system pembelajaran menggunakan tutor sebaya akan
membantu siswa yang nilainya dibawah KKM atau kurang cepat menerima pelajaran
dari guru diantara mata pelajaran. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa
yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau
enggan bertanya kepadanya. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan
oleh siswa yang menerima program perbaikan. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau
keras hati terhadap social kawan. Tutor mempunyai daya kreatifitas yang cukup
untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawan.
Ritta Eka Izzaty
dkk (2008: 114) memaparkan teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah dan
atau teman yang bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar
bagi perkembangan social anak baik secara positif maupun negatif. Anak yang
memiliki teman sebaya melakukan kegiatan bersama dengan integritas yang tinggi,
ada keterikatan satu sama lain sehingga mereka merasa perlu untuk bersama. Suherman
(2003:1) Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan
pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam
memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya
Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, saat ia menjadi
narasumber bagi yang lain. (Mel Siberman, 1996 : 165).
Berdasarkan
pemaparan diatas peneliti menyimpulkan bahwa tutor sebaya merupakan
pembelajaran yang dilaksanakan melalui siswa yang memiliki kemampuan lebih
membantu dan membimbing temannya yang kurang mampu.
Metode tutor teman sebaya adalah metode pembelajaran
dimana siswa berkelompok berpasangan dua orang, seorang dari pasangan itu
mengulangi menjelaskan materi pelajaran yang diterima dari sajian guru kepada
pasangannya, kemudian pasangan yang mendengar sambil membuat catatan-catatan
kecil, kemudian bergantian peran sampai keduanya jelas dan memahami materi
pembelajaran (Ekowati, 2004).
Dari pendapat itu dapat
disimpulkan bahwa metode tutor sebaya adalah cara-cara
yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pembelajaran yang
benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar agar
terjadi interaksi dalam proses pembelajaran dan tercapainya presentasi belajar
anak yang memuaskan sesuai yang diinginkan dengan cara seseorang atau beberapa orang yang dipercaya oleh guru
melalui beberapa aspek penilaian mampu membimbing teman sebayanya dalam kegiatan
belajar mengajar ditingkat kelas yang sama.
2)
Strategi dalam Pembelajaran Tutor Sebaya
Strategi pembelajaran (Wina Sanjaya 2011: 126) merupakan
suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan
melalui metode tutor sebaya maka diperlukan strategi-strategi dalam
pembelajaran. Dari hal itu metode
digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian,
metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting.
Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara
guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya
mungkin dapat diimplementasikan melalui metode pembelajaran.
Mel Siberman (1996 : 1966) mengemukakan
strategi yang ada dalam metode mengajar
teman sebaya diantaranya yaitu:
a)
Group to Group (Pertukaran)
Pada
strategi ini tugas yang berbeda diberikan pada kelompok siswa yang berbeda.
Masing-masing kelompok mempelajari apa yang telah dipelajari. Prosedur strategi
ini yaitu:
(1) Pilihlah sebuah topik yang mencakup perbedaan ide, kejadian,
posisi ataupun konsep untuk ditugaskan
(2) Bagilah kelas sesuai dengan jumlah tugas yang diberikan
(3) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas
(4) Lakukan tanya jawab di dalam kelas
b)
Everyone is a Teacher Here
(Setiap Orang adalah Guru)
Strategi
ini memudahkan guru untuk memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung
jawab individu. Setiap siswa bertindak sebagai seorang pengajar terhadap siswa
yang lain. Prosedur strategi pembelajaran ini yaitu:
(1) Bagikan kartu indeks kepada siswa dan mintalah untuk pertanyaan
sesuai materi pembelajaran.
(2) Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan kepada semua siswa
(3) Siswa membaca pertanyaan yang diperoleh secara perlahan
(4) Salah satu siswa membacakan pertanyaan yang diperoleh kemudian
menjawabnya
(5) Siswa dan guru memberikan respon terhadap siswa tersebut
c)
Peer Lesson (Pelajaran Teman Sebaya)
Strategi
pembelajaran ini menggambarkan peer
teaching dalam kelas menempatkan seluruh tanggung jawab untuk mengajar
peserta didik sebagai anggota kelas. Prosedur strategi pembelajaran ini yaitu:
(1)
Bagilah kelas dalam beberapa
kelompok
(2)
Berilah tiap kelompok
sejumlah informasi, konsep, atau keahlian untuk mengajar yang lain.
(3)
Mintalah setiap kelompok
mengajarkan topiknya kepada kelompok yang lain.
(4)
Mintalah kelompok untuk
mempresentasikan pelajaran mereka
d)
Student-created Studies (Studi
Kasus Kreasi Siswa)
Strategi
ini menuntut suatu tindakan dan pelajaran yang dapat dipelajari dan cara-cara
mengedalikan atau menghindari situasi yang akan datang. Prosedur yang harus
dilaksanakan meliputi:
(1) Bentuklah kelompok secara berpasangan atau trio
(2) Nyatakan studi kasus bertujuan untuk mempelajari atau menguji
topic tertentu
(3) Berikan waktu yang cukup pada setiap kelompok untuk mengembangkan
topic yang ada.
(4) Setelah studi kasus selesai mintalah setiap kelompok untuk
mempresentasikan hasil studinya.
3)
Langkah – langkah Tutor Sebaya
Langkah-langkah
pembelajaran dalam metode tutor sebaya menurut Hisyam
Zaini dalam Beti Riawati (2012: 2) adalah sebagai berikut.
a) Pilih
materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri.
Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi).
b) Bagilah
siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi
yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok
dan bertindak sebagai tutor sebaya
c) Setiap
kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh
siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
d) Beri
mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar
kelas
e) Setiap
kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang
telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
f) Setelah
semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub
materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang
perlu diluruskan.
Berdasarkani
uraian tersebut selanjutnya pembelajaran di kelas dapat dikembangkan dalam
bentuk soal yang lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam kelompok-kelompok
kecil. Dengan demikian dalam diri siswa akan tertanam kebiasaan saling membantu
antar teman sebaya.
Agar metode
pembelajaran tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, Miler
(dalam Aria Djalil 1997:2.48) menuliskan saran penggunaan tutor sebaya sebagai
berikut.
a) Mulailah
dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai.
b) Jelaskan
tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas).
c) Siapkan
bahan dan sumber belajar yang memadai.
d) Gunakan
cara yang praktis.
e) Hindari
kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru.
f) Pusatkan
kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan tutor.
g) Berikan
latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor
h) Lakukanlah
pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya.
i) Jagalah
agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka
langkah-langkah dalam pelaksanaan metode tutor sebaya yaitu (1) memilih materi
yang dapat dipelajari mandiri oleh siswa, (2) membagi materi ke dalam sub-sub
materi, (3) membentuk kelompok secara heterogen dan adil, (4) menentukan
seorang atau lebih siswa yang pandai untuk masing-masing kelompok, (5) bagilah
materi secara adil kepada semua kelompok, (6) menentukan alokasi waktu yang tepat
dan cukup untuk siswa, (7) berikan kesempatan siswa dari masing-masing kelompok
untuk melakukan kerja kelompok sesuai petunjuk dalam LKS, (8) siswa dari
masing-masing kelompok mempresentasikan hasildari masing-masing kelomompok, (9)
mengkalrifikasi dan menyimpulkan hasil diskusi kelas bersama-sama guru.
4)
Kelebihan dan Kelemahan Tutor Sebaya
Kelebihan dan kelemahan metode tutor sebaya menurut Suryo dan Amin dalam Didik Saifudin Zuhri (2012) adalah sebagai
berikut: a) Kelebihan tutor sebaya yaitu adanya (1) suasana hubungan yang lebih dekat dan akrab
antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu, (2) bagi
tutor sendiri, kegiatan remedial ini merupakan kesempatan untuk pengayaan dalam
belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar. (3) bersifat efisien, artinya
bisa lebih banyak yang dibantu. (4) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan
kepercayaan diri. b) Kelemahan metode tutor sebaya diantaranya
yaitu (1) Siswa yang dipilih
sebagai tutor dan berprestasi baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan
siswa yang dibantu. (2) Siswa
yang dipilih sebagai tutor belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik.
Arikunto dalam Moh. Amirudin mengungkapkan keunggulan dan
kelemahan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut:
a)
Keunggulan dari tutor sebaya antara lain
yaitu:
(1) Adakalanya
hasilnya lebih baik bagi beberapa siswa yang mempunyai perasaan takut atau
enggan kepada gurunya.
(2) Bagi
tutor pekerjaan tutoring akan dapat memperkuat konsep yang sedang dibahas.
(3) Bagi
tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam
mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
(4) Mempererat
hubungan antar siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.
b) Kekurangan
tutor sebaya diantaranya yaitu:
(1) Siswa
yang dibantu seringkali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan
temannya sendiri sehingga hasilnya kurang memuaskan.
(2) Ada
beberapa orang siswa yang merasa malu atau enggan untuk bertanya karena takut
kelemahannya diketahui oleh temannya.
(3) Pada
kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan karena perbedaan
jenis kelamin antara tutor dengan siswa yang diberi program perbaikan.
(4) Bagi
guru sukar untuk menentukan seorang tutor sebaya karena tidak semua siswa yang
pandai dapat mengajarkannya kembali kepada teman-temannya.
Kelebihan
dan kekurangan tutor sebaya menurut Beti Riawati (2012) dengan
kelebihan sebagai berikut:
a)
Anak-anak diajarkan untuk mandiri, dewasa
dan punya rasa setia kawanyang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya
itu, anak yangdianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang
kurang pandai atau ketinggalan.
b)
Siswa lebih mudah dan leluasa dalam
menyampaikan masalah yangdihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu
semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik.
c)
Membuat siswa yang kurang aktif menjadi
aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.
d)
Membantu siswa yang kurang mampu atau
kurang cepat menerimapelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor seraya bagi siswa
merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang
sebenarnya merupakankebutuhan siswa itu sendiri
e)
Tutor maupun yang ditutori sama-sama
diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.
Adapun kekurangan tutor sebaya antara lain: yaitu:
a)
Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada
temannya.
b)
Tidak semua siswa dapat menjawab
pertanyaan temannya
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa metode
tutor sebaya memiliki kelebihan
yaitu (1) meningkatkan
kemandirian belajar siswa, (2) terjalin hubungan yang lebih dekat dan akrab antara siswa yang
dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu, (3) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan
diri siswa, (4) bagi siswa mampu meningkatkan kegiatan
belajar dengan lebih giat dan demokratis, dan (5) bagi guru lebih efisien dalam menghadapi kegiatan belajar
secara kelompok. Sedangkan kelemahannya yaitu Siswa yang dipilih sebagai tutor belum tentu
bisa menyampaikan materi dengan baik sehingga kegiatan belajar yang dilaksanakan terkadang menyimpang
dari yang direncanakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar