Selasa, 29 Januari 2013



MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN
OLEH: RISKA NOVITA,S.Pd
Dalam bahasa Inggris, method berarti cara, sehingga menurut Joni dalam Asep Herry Hernawan (2008: 1.24) metode adalah berbagai cara kerja yang  bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Wina Sanjaya (2011: 145) metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplentasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.”  Dari pendapat itu metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Winarno Surachmad dalam Hidayati, dkk (2008: 7.21) mengemukakan metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan proses belajar mengajar atau bagaimana teknisnya suatu bahan ajar diberikan pada murid di sekolah.
Suyono dan Hariyanto (2011 : 19) memaparkan metode pembelajaran adalah seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah – langkah kegiatan pembelajaran termasuk pilihan dan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode pembelajaran dapat dianggap sebagai prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melaksanakan prose pembelajaran. Metode menurut Sagala dalam Ruminiati (2007: 2.3) adalah cara yang digunakan oleh guru atau siswa dalam mengolah informasi yang berupa fakta, data dan konsep pada proses pembeajaran yang mungkin terjadi.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar agar terjadi interaksi dalam proses pembelajaran dan tercapainya presentasi belajar anak yang memuaskan. Sehingga dapat disimpulkan, metode pembelajaran merupan cara yang digunakan oleh guru untuk mengadakan interaksi dengan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

a.    Manfaat Metode Pembelajaran
E. Mulyasa (2010: 107) menyatakan penggunaan metode yang tepat akan menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Metode pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Ruminiati (2007: 2.4) mengemukakan tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal jika metode yang digunakan tepat yang dapat dilaksanakan dengan menggunakan mtode lebih dari satu.
Hidayati, dkk (2008: 7.21) menyatakan semakin tepat metode yang digunakan pembelajaran akan berlangsung semakin efektif. Dengan memanfaatkan metode secara akurat guru mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Badariyah Almatsir dalam Hidayati, dkk (2008: 7.22) mengemukakan berbagai factor yang mempengaruhi penentuan metode yang menunjang keefektifan belajar meliputi 1) tujuan pengajaran; 2) bahan pengajaran; 3) siswa yang belajar; 4) kemampuan guru yang mengajar; 5) besarnya jumlah siswa; 6) alokasi waktu yang tersedia; 7) fasilitas yang tersedi; 8) media dan sumber belajar; 9) situasi pada suatu saat; 10) system evalusi.
Manfaat metode menurut Nurhidayati (2011: 5-6) adalah sebagai berikut:
1)        Mengarahkan proses pembelajaran pada tujuan pembelajaran
2)        Menghilangkan dinding pemisah guru-siswa
3)        Menggali dan memanfaatkan potensi siswa secara optimal
4)        Menjalin kemitraan guru-siswa
5)        Mempermudah penyerapan informasi
6)        Suasana menyenangkan “fun”
7)        Memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara optimal.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan metode pembelajaran yang tepat akan mengakibatkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan efektif. Metode pembelajaran bermanfaat bagi guru maupun siswa dalam kegiatan pembelajaran yang berjalan hingga tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan.

b.   Jenis – jenis Metode Pembelajaran
Jenis-jenis metode pembelajaran menurut Supinah (2009: 15) diantaranya yaitu:
1)        Metode Ceramah
Metode ini berbentuk penjelasan guru kepada siswa dan biasanya diikuti dengan tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Metode ini mempunyai keterbatasan sebagai berikut: (1) partisipasi siswa rendah; (2) kemajuan siswa sulit dipantau, dan (3) perhatian dan minat siswa tidak dapat dipantau. Pada pelajaran matematika. metode ceramah ini dapat diterapkan pada waktu kegiatan pembelajaran baru dimulai atau pada saat guru menginformasikan materi pembelajaran yang tidak menuntut peran aktif siswa, missal: menginformasikan definisi, teorema, rumus atau prosedur.
2)        Metode Demonstrasi
Metode ini mengambil bentuk sebagai contoh pelaksanaan suatu keterampilan atau proses kegiatan. Metode ini mempersyaratkan adanya suatu keahlian bagi guru untuk mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Setelah demonstrasi siswa diberi kesempatan melakukan ketrampilan atau proses yang sama di bawah supervisi guru. Pada pelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain saat pembuktian teori atau penurunan rumus (misal: volume atau luas bangun ruang), penggunaan alat (misal: penggaris, bujur derajat, jangka, dan lain - lain) dalam menggambar atau melukis bangun, penggunaan alat peraga (misal: klinometer, kurvameter dan lain - lain).
3)        Metode Penampilan
Metode ini berbentuk pelaksanaan praktik oleh siswa di bawah supervisi dari dekat oleh guru. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau demontrasi yang telah diterima atau diamati siswa. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan pada saat siswa harus menampilkan suatu ketrampilan atau proses yang sama yang telah dilakukan guru, misal: menggambar atau melukis dengan menggunakan alat.
4)        Metode Diskusi
Metode ini merupakan interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, menggali atau memperdebatkan topic atau permasalahan tertentu. Metode ini dapat dilakukan dalam bentuk klasikal atau kelompok-kelompok kecil. Diskusi kelompok kecil dapat dibedakan menjadi: pasangan, kelompok 3 - 6 orang, kelompok dinamika yaitu mulai dari dua orang, kemudian bergabung menjadi empat orang, terus bergabung menjadi delapan orang dan seterusnya. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain pada kompetensi yang memerlukan penalaran atau analisis dan adanya lebih dari satu kemungkinan jawaban, misal pembuktian teorema atau rumus atau pemecahan masalah.
5)        Metode Studi Mandiri
Metode ini berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh siswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus. Metode ini dilakukan dengan cara: (1) memberikan daftar bacaan kepada siswa yang sesuai dengan kebutuhannya; (2) menjelaskan hasil yang diharapkan dicapai oleh siswa pada akhir kegiatan studi mandiri; dan (3) mempersiapkan tes untuk menilai keberhasilan siswa. Metode ini hanya dapat digunakan bila siswa mampu menentukan sendiri tujuannya dan dapat memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Pada pembelajaran matematika SD, metode ini dapat dilaksanakan di kelas-kelas tinggi (kelas V atau kelas VI) yaitu pada tahap terakhir proses belajar, misal: setelah mempelajari topik tertentu guru memberikan tugas pada siswa untuk mempelajari kembali topik yang dibahas dengan latihan-latihannya yang ada pada beberapa buku yang ditentukan. Kemudian pada pertemuan berikutnya guru memberikan tes untuk melihat hasil yang dicapai siswa.
6)        Metode Bermain Peran
Metode ini berbentuk interaksi antara dua atau lebih siswa tentang suatu topik atau situasi. Dalam interaksi itu setiap siswa melakukan peran terbuka. Metode ini sering digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan isi pelajaran yang baru saja dipelajarinya dalam rangka menemukan kemungkinan masalah yang akan dihadapi dalam pelaksanaan sesungguhnya. Pada pembelajaran metematika di SD, metode ini cocok diberikan pada pokok bahasan aritmatika sosial, seperti tukar menukar mata uang, jual beli dan lainlain.
7)        Metode Computer Assisted Learning (CAL)
Metode CAL berbentuk suatu seri kegiatan belajar yang sangat terstruktur dengan menggunakan komputer. Isi pelajaran dimunculkan oleh komputer dalam bentuk masalah. Siswa diminta memberikan jawaban atau pemecahan masalah melalui komputer dan seketika itu juga jawaban siswa diproses secara elektronik, berselang satu atau beberapa detik kemudian siswa mendapatkan umpan balik tentang jawabannya. Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk maju menurut kecepatan masing-masing. Kesulitan penggunaan metode ini adalah pengembangan program CAL membutuhkan biaya yang tinggidan butuh waktu yang lama serta pengadaan dan pemeliharaan alat yang mahal. Pada pembelajaran matematika di SD, program-program CAL sudah tersedia, seperti operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan lain-lain. Namun demikian metode ini jarang ataupun tidak banyak digunakan di sekolah-sekolah dasar pada umumnya. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya fasilitas pendukung terlaksananya metode ini, seperti keterbatasan jumlah komputer dan program-programnya.
8)        Metode Deduktif
Metode ini dimulai dengan pemberian penjelasan tentang prinsipprinsipisi pelajaran, kemudian disusul dengan penerapan atau contoh-contohnya pada situasi tertentu. Metode ini bergerak dari yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Metode ini tepat digunakan bila: (1)siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari; (2) isipelajaran meliputi terminologi, teknis, dan bidang yang kurang membutuhkan proses berpikir teoritis; (3) pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicara yangbaik; dan (4) waktu yang tersedia singkat. Dalam menggunakan metode ini tahap yang perlu dilakukan guru adalah mempersiapkan pembelajaran dengan baik kemudian guru menjelaskan/menerapkan/menganalisis suatu konsep, prinsip atau prosedur kepada siswa, kemudian berbekal penjelasan guru, siswa menerapkan konsep, prinsip atau prosedur dalam menyelesaikan masalah. Pada pembelajaran matematika di SD, metode ini dapat digunakan misalnya pada saat guru menjelaskan tentang rumus-rumus dan penerapannya, seperti: rumus keliling, luas ataupun volum, atau pada saat guru menjelaskan prosedur penyelesaian suatu masalah, seperti menentukan sudut terkecil yang dibentuk oleh jarum jam yang menunjukkan waktu atau pukul tertentu.
9)        Metode Induktif atau Discovery atau Socratic
Metode ini dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesis, menemukan atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut. Metode ini tepat digunakan apabila: (1) siswa telah mengenal atau mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut; (2) yang dianjurkan berupa keterampilan komunikasi antar pribadi, sikap, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan; (3) guru mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik, fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, serta sabar; dan (4) waktu yang tersedia cukup panjang. Pada metode ini tahap yang perlu dilaksanakan guru adalah mengajukan masalah dan membimbing siswa untuk menemukan pemecahannya. Sedangkan tahap yang perlu dilakukan siswa dalah memahami masalah, memproses data dan menganalisanya kemudian menggeneralisasikan ke dalam bentuk umum. Pada pembelajaran matematika, metode ini dapat digunakan misalnya dalam menemukan rumus luas atau keliling bangun datar, volum bangun ruang atau menemukan hubungan antara panjang, lebar, keliling, dan luas.
Selain metode tersebut menurut Wardani dalam Supinah (2009:19), yaitu:
1)        Metode Ekspositori
Metode ini merupakan cara pembelajaran dengan guru berbicara pada saat-saat tertentu saja. Sedangkan kegiatan siswa tidak hanya terfokus pada mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru dan membuat catatan tetapi juga mengerjakan soal-soal latihan dengan mandiri baik secara individual atau kelompok. Pada pembelajaran matematika di SD, guru berbicara misalnya pada saat pembelajaran, menjelaskan materi,memberikan contoh atau pada saat memberikan latihan pada siswa.
2)        Metode Tanya Jawab
Metode ini merupakan interaksi antara siswa dan guru dalam bentuk murni tanya jawab dalam membahas topik atau permasalahan tertentu. Inisiatif dan arahan tanya jawab dikendalikan oleh guru. Pertanyaan guru harus dijawab siswa dan sebaliknya bisa terjadi siswa bertanya pada guru. Walaupun pembelajaran dilakukan dengan murni Tanya jawab namun masih diperlukan cara informatif khususnya untuk pengarahan.
3)        Metode Drill dan Latihan
Metode Drill berbentuk pertanyaan atau soal dari guru yang harus dijawab siswa dengan cepat, tepat dan benar. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan siswa dalam mengingat serta mengungkapkan kembali ingatannya (menyebutkan) tentang fakta-fakta dasar, seperti: penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bilangan-bilangan dasar, sebagai contoh: siswa di kelas III SD harus memiliki kemampuan melakukan perkalian dua bilangan satu angka dengan satu angka yang hasilnya sampai dengan 81 dengan cepat, tepat dan benar. Metode latihan berbentuk masalah atau soal dari guru yang harus dijawab siswa dengan kecepatan dan kecermatan. Pada pembelajaran matematika digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa agar cepat dan cermat dalam menggunakan algoritma (langkah-langkah atau prosedur penyelesaian masalah) matematika.
4)        Metode Pemberian Tugas
Metode ini berbentuk pemberian tugas oleh guru yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan pelaksanaannya oleh siswa kepada guru atau teman-teman sekelasnya. Pada pembelajaran matematika, metode ini digunakan antara lain bertujuan agar siswa dapat: melatih keterampilannya dalam menyelesaikan soal, lebih memahami dan mendalami suatu kompetensi yang telah dipelajari di sekolah, menumbuhkan kebiasaan belajar secara mandiri dan sikap positif terhadap matematika serta melatih rasa tanggung jawab. Untuk itu tugas yang diberikan pada siswa dapat berupa: menyelesaikan soalsoal matematika, membaca bahan yang akan dipelajari, menerapkan kemampuan matematikanya, mencari contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari yang relevan dengan konsep atau algoritma matematika tertentu, dan lain-lain.
5)        Metode Kegiatan Lapangan
Metode ini berbentuk pemberian tugas dari guru kepada siswa untuk menyelesaikan dengan melakukan kegiatan lapangan (di luar kelas) dan menggunakan instrumen tertentu. Pada pembelajaran metematika, metode ini dapat digunakan pada saat siswa belajar statistik (siswa mengumpulkan data statistik dari lapangan kemudian mengolah dan menyajikannya dalam suatu diagram atau grafik), pengukuran (pengukuran tinggi suatu obyek pohon atau gedung) tanpa harus melakukan pengukuran langsung (misal dengan klinometer), mengukur lebar sungai, dan lain-lain.
6)        Metode Permainan
Metode ini berbentuk kegiatan pembelajaran yang didasarkan pada prinsip “belajar sambil bermain”. Pada pembelajaran matematika, permainan yang bernilai matematika dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam menguasai keterampilan tertentu, menemukan dan memecahkan masalah, serta memahami konsep tertentu, contoh: bermain bilangan pada bujur sangkar, segitiga dan segilima ajaib, bermain kartu dan lain-lain.

c.    Metode Tutor Sebaya
1)   Pengertian Metode Tutor Sebaya
Selain macam-macam metode yang disebutkan sebelumnya peneliti memilih metode lain dalam penelitian ini, yaitu metode tutor sebaya. Tutor sebaya menurut Arikunto (2006: 11) adalah seseorang atau beberapa oramg siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Dengan system pembelajaran menggunakan tutor sebaya akan membantu siswa yang nilainya dibawah KKM atau kurang cepat menerima pelajaran dari guru diantara mata pelajaran. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan bertanya kepadanya. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap social kawan. Tutor mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawan.
Ritta Eka Izzaty dkk (2008: 114) memaparkan teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah dan atau teman yang bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi perkembangan social anak baik secara positif maupun negatif. Anak yang memiliki teman sebaya melakukan kegiatan bersama dengan integritas yang tinggi, ada keterikatan satu sama lain sehingga mereka merasa perlu untuk bersama. Suherman (2003:1) Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya
Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, saat ia menjadi narasumber bagi yang lain. (Mel Siberman, 1996 : 165).
Berdasarkan pemaparan diatas peneliti menyimpulkan bahwa tutor sebaya merupakan pembelajaran yang dilaksanakan melalui siswa yang memiliki kemampuan lebih membantu dan membimbing temannya yang kurang mampu.
Metode tutor teman sebaya adalah metode pembelajaran dimana siswa berkelompok berpasangan dua orang, seorang dari pasangan itu mengulangi menjelaskan materi pelajaran yang diterima dari sajian guru kepada pasangannya, kemudian pasangan yang mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian bergantian peran sampai keduanya jelas dan memahami materi pembelajaran (Ekowati, 2004).
Dari pendapat itu dapat disimpulkan bahwa metode tutor sebaya adalah cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pembelajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar agar terjadi interaksi dalam proses pembelajaran dan tercapainya presentasi belajar anak yang memuaskan sesuai yang diinginkan dengan cara seseorang atau beberapa orang yang dipercaya oleh guru melalui beberapa aspek penilaian mampu membimbing teman sebayanya dalam kegiatan belajar mengajar ditingkat kelas yang sama.

2)   Strategi dalam Pembelajaran Tutor Sebaya
Strategi pembelajaran (Wina Sanjaya 2011: 126) merupakan suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui metode tutor sebaya maka diperlukan strategi-strategi dalam pembelajaran. Dari  hal itu metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui metode pembelajaran.
Mel Siberman (1996 : 1966) mengemukakan strategi yang ada dalam metode mengajar teman sebaya diantaranya yaitu:
a)         Group to Group (Pertukaran)
Pada strategi ini tugas yang berbeda diberikan pada kelompok siswa yang berbeda. Masing-masing kelompok mempelajari apa yang telah dipelajari. Prosedur strategi ini yaitu:
(1)     Pilihlah sebuah topik yang mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi ataupun konsep untuk ditugaskan
(2)     Bagilah kelas sesuai dengan jumlah tugas yang diberikan
(3)     Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas
(4)     Lakukan tanya jawab di dalam kelas
b)        Everyone is a Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru)
Strategi ini memudahkan guru untuk memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Setiap siswa bertindak sebagai seorang pengajar terhadap siswa yang lain. Prosedur strategi pembelajaran ini yaitu:
(1)     Bagikan kartu indeks kepada siswa dan mintalah untuk pertanyaan sesuai materi pembelajaran.
(2)     Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan kepada semua siswa
(3)     Siswa membaca pertanyaan yang diperoleh secara perlahan
(4)     Salah satu siswa membacakan pertanyaan yang diperoleh kemudian menjawabnya
(5)     Siswa dan guru memberikan respon terhadap siswa tersebut
c)         Peer Lesson (Pelajaran Teman Sebaya)
Strategi pembelajaran ini menggambarkan peer teaching dalam kelas menempatkan seluruh tanggung jawab untuk mengajar peserta didik sebagai anggota kelas. Prosedur strategi pembelajaran ini yaitu:
(1)          Bagilah kelas dalam beberapa kelompok
(2)          Berilah tiap kelompok sejumlah informasi, konsep, atau keahlian untuk mengajar yang lain.
(3)          Mintalah setiap kelompok mengajarkan topiknya kepada kelompok yang lain.
(4)          Mintalah kelompok untuk mempresentasikan pelajaran mereka

d)        Student-created Studies (Studi Kasus Kreasi Siswa)
Strategi ini menuntut suatu tindakan dan pelajaran yang dapat dipelajari dan cara-cara mengedalikan atau menghindari situasi yang akan datang. Prosedur yang harus dilaksanakan meliputi:
(1)     Bentuklah kelompok secara berpasangan atau trio
(2)     Nyatakan studi kasus bertujuan untuk mempelajari atau menguji topic tertentu
(3)     Berikan waktu yang cukup pada setiap kelompok untuk mengembangkan topic yang ada.
(4)     Setelah studi kasus selesai mintalah setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil studinya.


3)        Langkah – langkah Tutor Sebaya
Langkah-langkah pembelajaran dalam metode tutor sebaya menurut Hisyam Zaini dalam Beti Riawati (2012: 2) adalah sebagai berikut.
a)    Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi).
b)   Bagilah siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya
c)    Setiap kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
d)   Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas
e)    Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
f)    Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.

Berdasarkani uraian tersebut selanjutnya pembelajaran di kelas dapat dikembangkan dalam bentuk soal yang lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan demikian dalam diri siswa akan tertanam kebiasaan saling membantu antar teman sebaya.
Agar metode pembelajaran tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, Miler (dalam Aria Djalil 1997:2.48) menuliskan saran penggunaan tutor sebaya sebagai berikut.
a)    Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai.
b)   Jelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas).
c)    Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai.
d)   Gunakan cara yang praktis.
e)    Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru.
f)    Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan tutor.
g)   Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor
h)   Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya.
i)     Jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka langkah-langkah dalam pelaksanaan metode tutor sebaya yaitu (1) memilih materi yang dapat dipelajari mandiri oleh siswa, (2) membagi materi ke dalam sub-sub materi, (3) membentuk kelompok secara heterogen dan adil, (4) menentukan seorang atau lebih siswa yang pandai untuk masing-masing kelompok, (5) bagilah materi secara adil kepada semua kelompok, (6) menentukan alokasi waktu yang tepat dan cukup untuk siswa, (7) berikan kesempatan siswa dari masing-masing kelompok untuk melakukan kerja kelompok sesuai petunjuk dalam LKS, (8) siswa dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasildari masing-masing kelomompok, (9) mengkalrifikasi dan menyimpulkan hasil diskusi kelas bersama-sama guru.

4)        Kelebihan dan Kelemahan Tutor Sebaya
Kelebihan dan kelemahan metode tutor sebaya menurut Suryo dan Amin dalam Didik Saifudin Zuhri (2012) adalah sebagai berikut: a) Kelebihan tutor sebaya yaitu adanya (1) suasana hubungan yang lebih dekat dan akrab antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu, (2) bagi tutor sendiri, kegiatan remedial ini merupakan kesempatan untuk pengayaan dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar. (3) bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu. (4) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. b) Kelemahan metode tutor sebaya diantaranya yaitu (1) Siswa yang dipilih sebagai tutor dan berprestasi baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan siswa yang dibantu. (2) Siswa yang dipilih sebagai tutor belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik.
Arikunto dalam Moh. Amirudin mengungkapkan keunggulan dan kelemahan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut:
a)    Keunggulan dari tutor sebaya antara lain yaitu:
(1)     Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa siswa yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada gurunya.
(2)     Bagi tutor pekerjaan tutoring akan dapat memperkuat konsep yang sedang dibahas.
(3)     Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
(4)     Mempererat hubungan antar siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.

b)   Kekurangan tutor sebaya diantaranya yaitu:
(1)      Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan temannya sendiri sehingga hasilnya kurang memuaskan.
(2)     Ada beberapa orang siswa yang merasa malu atau enggan untuk bertanya karena takut kelemahannya diketahui oleh temannya.
(3)     Pada kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan karena perbedaan jenis kelamin antara tutor dengan siswa yang diberi program perbaikan.
(4)     Bagi guru sukar untuk menentukan seorang tutor sebaya karena tidak semua siswa yang pandai dapat mengajarkannya kembali kepada teman-temannya.

Kelebihan dan kekurangan tutor sebaya menurut Beti Riawati (2012) dengan kelebihan sebagai berikut:
a)        Anak-anak diajarkan untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawanyang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yangdianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau ketinggalan.
b)        Siswa lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yangdihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik.
c)        Membuat siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.
d)       Membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerimapelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor seraya bagi siswa merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakankebutuhan siswa itu sendiri
e)        Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.
Adapun kekurangan tutor sebaya antara lain: yaitu:
a)        Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.
b)         Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode tutor sebaya memiliki kelebihan yaitu (1) meningkatkan kemandirian belajar siswa, (2) terjalin hubungan yang lebih dekat dan akrab antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu, (3) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri siswa, (4)  bagi siswa mampu meningkatkan kegiatan belajar dengan lebih giat dan demokratis, dan (5) bagi guru lebih efisien dalam menghadapi kegiatan belajar secara kelompok. Sedangkan kelemahannya yaitu Siswa yang dipilih sebagai tutor belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik sehingga kegiatan belajar yang dilaksanakan terkadang menyimpang dari yang direncanakan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar